Definisi Teknologi Pendidikan AECT 2004 (The Current Definition)

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan belajar yang semakin beragam dan meningkat, mempengaruhi perkembangan definisi berikutnya. Alan Januszewski dan Michael Molenda (2008: 280) sebagai anggota Komisi Definisi dan Terminologi AECT merumuskan definisi 2004 sebagai berikut:

Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using and managing appropriate technological processes and resources

Januszewski & Molenda, 2008:280

Definisi terbaru ini mengandung tiga belas konsep yang disarikan dari Januszewski dan Molenda (2008: 1-13) diantaranya:

  1. study, mengacu pada pengumpulan informasi dan analisis di luar konsep penelitian untuk mencakup penelitian kuantitatif dan kualitatif serta bentuk penyelidikan disiplin lainnya seperti teori, analisis filosofis, proyek pengembangan, analisis sistem, dan evaluasi.
  2. ethical practice, mengacu kepada pertimbangan segala macam nilai-nilai, termasuk prinsip-prinsip etis dalam melaksanakan praktek teknologi pendidikan, yang terdiri dari: (a) komitmen individu; (b) komitmen sosial; dan (c) komitmen profesi.
  3. facilitating, bahwa tugas teknologi bukanlah mengontrol pembelajaran, melainkan mendukung proses belajar. Memfasilitasi termasuk mendesain lingkungan, pengorganisasian sumber, dan sebagainya.
  4. learning, konsep belajar disini bukan hanya menghafal, mengingat, tetapi belajar dimaksudkan adalah bagaimana seseorang mampu mengembangkan diri berdasarkan persepsinya terhadap apa yang ia pelajari.
  5. improving merujuk pada suatu pernyataan mengenai keefektifan; bisa merupakan cara-cara yang diharapkan membawa hasil yang berkualitas, produk yang diharapkan dapat menciptakan proses belajar yang efektif, dan perubahan-perubahan kompetensi yang dapat diterapkan di dunia nyata
  6. performance, merujuk kepada kemampuan pebelajar untuk menggunakan dan menerapkan kapabilitas baru yang telah ditingkatkan.
  7. creating, mengacu pada penelitian, teori, dan praktek yang terlibat dalam latar belakang perancangan lingkungan belajar dari berbagai keadaan baik formal maupun nonformal.
  8. using, dapat berarti tidak hanya menggunakan sumber belajaryang secara khusu melainkan juga sumber yang secara tidak khusus didesain untuk keperluan pembelajaran namun dapat ditemukan, diaplikasikan, dan digunakan untuk keperluan belajar.
  9. managing, berfokus pada konsep dan prinsip-prinsip yang berkaitan dengan mengelola proses teknologi yang tepat dan sumber daya. Kegiatan pengelolaan teknologi pendidikan cenderung diarahkan ke empat objek: mengelola proyek, mengelola sumber daya, mengelola kinerja, dan manajemen program.
  10. appropriate, istilah ini berarti dierapkan kepada penggunaan proses dan sumber daya, yang menunjukkan kesesuaian dan kompatibilitas dengan tujuan yang dimaksud. Dengan kata lain produk teknologi yang diciptakan masuk dalam jenis ‘teknologi tepat guna,’ bukan hanya sekedar teknologi tanpa manfaat.
  11. technological, dalam konteks ini diartikan sebagai istilah singkat yang menggambarkan pendekatan aktivitas manusia berdasarkan definisi teknologi sebagai aplikasi sistematis pengetahuan ilmiah atau terorganisir lainnya untuk tugas-tugas praktis
  12. processes, didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang diarahkan untuk mencapai hasil tertentu. Teknolog pendidikan biasanya menggunakan proses khusus untuk merancang, mengembangkan, dan menghasilkan sumber belajar yang digolongkan ke dalam suatu proses pengembangan pembelajaran yang lebih luas.
  13. resources, sumber yang dimaksud dalam komponen definisi ini adalah sumber belajar. Sumber daya telah berkembang dengan inovasi teknologi dan pengembangan pemahaman mengenai bagaimana teknologi dapat membantu membimbing peserta didik.

Hubungan antar konsep teknologi pendidikan menurut definisi tahun 2004 dapat ditunjukkan pada bagan berikut ini:

Educational Technology Concept

Serangkaian perkembangan dan perubahan konsep tersebut dilakukan secara terarah dan terencana, bukan sekedar menambah apa yang kurnag, menambal apa yang berlubang dan menjahit apa yang sobek. Banathy dalam Miarso (2016: 130), untuk menjamin apa yang diharapkan bukan hanya “dong more of the same” ataupun “doing it better of the same”, melainkan “ding it differently”. Maka pendekatan yang digunakan dalam serangkaian perubahan konsep ini dilakukan secara:

  1. isometrik, menggabungkan berbagian kajian/bidang keilmuan ke dalam suatu kebulatan tersendiri
  2. sistematik, dengan cara berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan masalah
  3. sinergetik, menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan bila dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-sendiri
  4. sistemik, pengkajian secara menyeluruh.

Leave a Comment

Your email address will not be published.