Penerapan Moral Action Melalui Penguatan Model Scaffolding Writing Berbasis Diari Terbimbing

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas sumber daya manusia karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak dini serta berkelanjutan (Khotimah, 2019). Amanah Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bukan hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkarakter dan berkepribadian dengan tujuan untuk membentuk generasi yang tumbuh berkembang dengan karakter yang sesuai dengan nilai luhur bangsa dan agamanya masing-masing. Dengan kata lain, tujuan akhir dari pendidikan yang sebenarnya adalah melahirkan insan yang cerdas dan berkarakter.

Pendidikan yang diselenggarakan terutama di sekolah dasar belum dilaksanakan secara optimal, sehingga pembelajaran dirasakan kurang bermakna dan terjadi kesenjangan antara pengetahuan moral dan perilaku peserta didik (Megawangi, 2004: 80). Hal tersebut mengakibatkan siswa memperlihatkan karakter-karakter negatif, seperti mencuri, menipu, berbohong, berkata kotor dan kasar, merusak milik sekolah, membolos, mengganggu teman atau orang lain dengan menggertak, mengejek, menimbulkan keributan, perkelahian, perundungan, dan bentuk-bentuk kenakalan remaja lainnya (Giyono dan Sentono, 2017; Noor, 2014). Fenomena sosial tersebut merupakan bukti dari adanya degradasi moral di masyarakat, dimana seseorang tidak merasakan ketakutan bahkan kecemasan dalam melakukan tindak kejahatan (Alia, dkk., 2020: 85). Hal tersebut menunjukkan karakter bangsa yang terpuruk dan harus segera dicari solusinya.

Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah telah menetapkan pembangunan karakter bangsa sebagai salah satu prioritas sekaligus misi pembangunan nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005 – 2025 yang berbunyi; mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila (Lampiran Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2007). Implementasinya adalah dilakukan program penguatan yang bernama “Penguatan Pendidikan Karakter” atau PPK dan Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) (Kosim, 2020, hal. 88).

Tingkat pendidikan sekolah dasar merupakan masa-masa yang paling tepat untuk menanamkan pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pendidikan dasar merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan keluarga, karena itu kerjasama antara sekolah dengan keluarga merupakan hal yang sangat penting. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia tersebut, sehingga terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hal tersebut, jelas bahwa guru merupakan salah satu pembentuk karakter peserta didk di sekolah. Banyak cara yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan karakter abik peserta didik di sekolah salah satunya melalui kegiatan pembelajaran. Marzano (1985) dan Bruner (1960) (dalam Giyono, W., dan Senotno, 2017: 8) mendeskripsikan keseimbangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan untuk membangun softskill dan hardskill. Berikut gambar keseimbangan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang disarankan oleh Kemdikbud.

Keseimbangan Ranah Sikap, Keterampilan, dan Pengetahuan

Jika mencermati proporsi muatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang harus dipelajari peserta didik SD dari muatan yang lebih banyak hingga yang paling sedikit adalah mulai dari ranah sikap, keterampilan, kemudian pengetahuan. Jadi, pendidikan di jenjang SD harus lebih menekankan pada ranah sikap, atau saat ini disebut dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter di Indonesia tentu mengarah pada falsafah negara Indonesia, yaitu Pancasila dan saat ini sesuai dengan Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai mana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, yaitu mewujudkan Profil Pelajar Pancasila (ditpsd.kemdikbud.go.id/hal/profil-pelajar-pancasila).

Berdasarkan hal di atas, diperlukan suatu cara agar pendidikan dapat memperlihatkan tajinya dalam peran serta melahirkan generasi holistik, salah satunya yaitu dengan cara membina nilai-nilai Pancasila sebagai jati diri bangsa agar pribadi penerus bangsa tidak mudah goyah oleh derasnya arus gobalisasi (Dahliyana, 2017). Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membina nilai-nilai Pancasila pada peserta didik, yaitu dengan penanaman moral action. Penanaman moral action dilakukan melalui pembiasaan dengan penguatan model scaffolding writing berbasis diari terbimbing. Jika biasanya penanaman moral dilakukan hanya dengan mengisi daftar checklist, saat ini peserta didik akan mendapat penguatan melalui model scaffolding writing berbasis diari terbimbing yang akan dibuat oleh penulis selaku guru.

 Model scaffolding writing merupakan model pembelajaran menulis dimana kerangka penulisannya ditentukan oleh guru (Abidin, 2015: 203). Model tersebut dapat memberikan  bimbingan secara  penuh  kepada  siswa  pada  saat proses    pembelajaran,    karena    dalam penerapannya   sangat   memperhatikan prosedur pembelajaran menulis, seperti pola  tulis,  pola  pikir,  dan  pola  kontrol (Supendi,    dkk.,    2017:    445)    sebagai contextualizing karena  guru  membuat  analogi dari tujuan teks deskriptif berdasarkan dunia peserta didik (Walqui, 2006: 173). Hal tersebut dapat menambah ketertarikan peserta didik terhadap pengerjaan tugas.

Dengan menerapkan pembiasaan dengan penguatan model scaffolding writing berbasis diari terbimbing, peserta didik dibimbing untuk mengingat dan mengekspresikan pembiasaan atau kejadian sehari-harinya sekaligus merefleksi kegiatan yang sudah dilakukannya apakah sudah sesuai dengan moral Pancasila atau belum. Sehingga siswa diharapkan mampu memaknai moral Pancasila di dalam kehidupan sehari-harinya secara konstekstual dan bermakna.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *